Pantura Wirausaha: Belajar Memulai Usaha dari Jalur Pantura

Categories: development

Pernah melakukan perjalanan jauh di malam hari via Jalur Pantura (Pantai Utara Jawa)? Pasti banyak yang pernah, apalagi para perantau, setidaknya setahun sekali di saat mudik lebaran. Sharing kali ini terinspirasi dari perjalanan dinas saya beberapa kali di malam hari melalui Jalur Pantura.

pantura wirausaha - memulai usaha dengan belajar dari jalur pantura

image by : Kuba (flickr.com)

Mengawali sebuah usaha rasanya tak jauh beda dengan melakukan perjalanan (dinas) di malam hari tersebut. Sebagai gambaran, beberapa hal penting yang perlu diperhatikan sebelum melakukan perjalanan:

  • Persiapan agenda di lokasi tujuan (berapa lama, ketemu dengan siapa saja, apa saja goals-nya, dan lainnya.)
  • Bekal yang disesuaikan dengan agenda tersebut di atas (pakaian yang dibawa, uang saku yang disiapkan, akomodasi, penginapan, dan sebagainya.)
  • Pengetahuan rute dan kesiapan kendaraan serta driver yang mumpuni atas jalur yang akan dilalui.

Agenda Perjalanan Usaha – Pantura Wirausaha ala IDpreneurs

Dalam mengawali usaha, pengetahuan akan rute yang harus dijalani sangatlah penting. Memang benar, kegagalan adalah sebuah keniscayaan dalam proses berwirausaha, namun apabila dapat diminimalisir tentu akan memberikan keuntungan tersendiri dalam memenangkan persaingan usaha.

Seperti yang saya katakan di atas, dalam perjalanan dinas, penting untuk menetapkan agenda yang akan dilakukan. Hal ini agar perjalanan dinas itu lebih jelas.

Coba bayangkan jika kamu memiliki perusahaan, tentunya kamu tidak akan mau mengeluarkan budget berlimpah hanya untuk tujuan business trip yang tidak jelas bukan?

Sebagaimana berperjalanan, dalam berwirausaha juga harus ditetapkan terlebih dahulu agenda yang ingin dicapai, yang sering disebut dengan visi. Ingin seperti apa usaha yang akan kita bangun, di posisi apa kita ingin bersaing, dan tujuan apa yang hendak dicapai dengan usaha tersebut.

Faktor inilah, menurut saya, yang membedakan pedagang dan pebisnis.

Seorang pedagang hanya berorientasi pada lakunya barang dagangan, sedangkan seorang pebisnis memiliki jangkauan visi yang lebih luas untuk tidak sekedar bagaimana produk terjual, tapi juga nilai dan pengembangan usaha/bisnis tersebut.

Secara sederhana, seorang pebisnis harus memiliki kemampuan dagang, tapi seorang pedagang tidak semuanya memiliki kemampuan berbisnis. Semakin kuat visi anda atas usaha anda, semakin kuat pula tekad dan ketekunan akan terbentuk darinya.

Bekal Mengawali Usaha

Setelah menetapkan akan ke mana dan sebesar apa tujuan usaha kita, berikutnya kita bisa mempersiapkan bekal yang mumpuni. Dalam keyakinan kami, bekal paling penting dan krusial dalam berwirausaha adalah kepercayaan yang diperoleh dari jaringan. Sang Nabi pun memperoleh gelar al-Amin (Terpercaya) terlebih dahulu sebagai modal dasar paling krusial dalam kehidupan beliau, baik untuk berbisnis, maupun untuk berdakwah.

Memang benar jika banyak yang mengatakan bahwa hampir semua bisnis menuntut modal finansial dalam mengawalinya, tapi bukankah dengan kepercayaan kita bisa mendapatkan modal tersebut dari pihak lain?

Kalau anda berpikir bahwa kebanyakan peminat wirausaha mempunyai ide usaha namun belum memiliki modal finansial, maka yakinlah bahwa diluar sana banyak pemilik modal yang “kebingungan” menyalurkan dananya dan membutuhkan ide usaha anda.

Hanya kepercayaan dari jaringan inilah yang bisa menghubungkan keduanya.

Bekal berikutnya tentu kompetensi atas bisnis dan bidang usaha yang akan anda jalani.

Perlu diingat ada dua kompetensi di sini, yaitu kompetensi bisnis dan kompetensi bidang usaha. Sekilas sama, namun berbeda dalam implementasinya.

Kalau anda berpikir untuk membuka usaha restoran hanya karena anda punya passion dan kemampuan untuk memasak, maka anda akan dihadapkan pada kondisi tak terkendali pada saat memulai usaha. Karena dalam berbisnis, anda tidak hanya dituntut untuk bisa memasak, namun juga anda harus bisa mengelola bisnis mulai dari administrasinya, keuangannya, pemasarannya, dan berbagai strategi bisnis lainnya.

Seperti dalam business trip, bisa saja memang bekal yang dibutuhkan diperoleh setelah memulai perjalanan atau di lokasi tujuan, seperti hotel yang dapat dipesan setelah sampai di lokasi.

Namun tentu ada konsekuensi resiko jika kita melakukan hal ini, seperti tidak mendapatkan kamar hotel karena high season. Resiko ini sebenarnya bisa dihindari apabila bekal sudah dipersiapkan secara matang terlebih dahulu.

Pengetahuan Rute Mengawali Usaha

Bagi anda yang pernah berperjalanan jauh, seberapa besar perbedaan waktu tempuh yang diperlukan antara anda yang sudah mengenal baik jalur akan dilalui dibandingkan dengan anda yang baru pertama kali melewati jalur itu? Itu baru salah satu efek pentingnya memiliki pengetahuan memadai mengenai jalur yang akan dilalui.

Dalam berwirausaha pun demikian, trial and error sering terjadi dan menjadi saringan alami seseorang yang benar-benar memiliki mental tahan banting atau cuma mencoba-coba. Namun, apabila kita memiliki pengetahuan mumpuni mengenai rute berwirausaha, tentu kerugian yang mungkin timbul dapat dialihkan menjadi energi lain untuk pengembangan.

Seperti dalam perjalanan, berwirausaha juga ada lobang dan hambatan di sepanjang jalur yang dilalui.

Makin hafal kita lokasi kerikilnya, makin mampu kita menghindarinya, atau kalaupun tidak bisa dihindari setidaknya kita lebih siap menghadapi goncangannya. Pengetahuan akan bisnis dan industri yang akan kita masuki inilah yang saya analogikan sebagai jalur pantura di malam hari.

Di sana ada perbaikan sepanjang tahun, penerangan jalan yang tidak merata sehingga tak jarang kita terperosok ke lobang jalan yang menganga, juga efek cuaca yang patut diperhitungkan di setiap pilihan waktu yang kita tentukan untuk mengadakan perjalanan malam ini.

Dalam hal berperjalanan jauh, kita mampu menghilangkan faktor kondisi jalan ini dengan pemilihan kendaraan yang sehat dan driver yang cakap. Dalam hal berwirausaha, kendaraan itu adalah entitas bisnis kita, dan driver yang cakap adalah tuntutan atas diri kita sendiri.

Sebagaimana disampaikan oleh Prof. Rhenald Kasali dalam bukunya Self Driving, seorang leader adalah seorang driver, bukan passenger.

Tidak ada pilihan lain bagi seorang entrepreneur selain menjadi driver, mengambil tanggung jawab atas sukses tidaknya sebuah perjalanan usaha, bukan penumpang yang hanya tau beres atas hasil sebuah usaha.

Naluri Entrepreneur

Yang tidak kalah penting untuk dapat dikuasai dalam perjalanan “pantura wirausaha” adalah: kemampuan membaca marka jalan dengan baik. Seperti halnya seorang driver yang harus memiliki penglihatan prima sepanjang perjalanan, maka seorang entrepreneur harus senantiasa waspada atas apapun yang terjadi di sepanjang perjalanan usahanya.

Karena sebagus apapun persiapan atau sebuah agenda perjalanan, secukup apapun bekal yang dipersiapkan, dan sehandal apapun driver dan kendaraan yang digunakan, pantura selalu bergoyang. Eh, maksudnya, jalur perjalanan selalu dinamis menawarkan perubahan.

pantura wirausaha

Memahami jalur adalah salah satu yang perlu dipahami para wirausaha – pembelajaran dari jalur pantura wirausaha

Sehebat apapun visi usaha anda, sebesar apapun kompetensi yang disiapkan, dan sehebat apapun seorang pengusaha, dia harus bersiap atas dinamika usaha. Inilah saringan terakhir dan terus menerus atas pengusaha dan dunia usaha. Hanya pengusaha yang mempunyai insight terlatih yang bisa bertahan menghadapi perubahan dinamis dunia usaha.

Jadi, jika kamu sudah mengetahui dengan pasti agendanya, mempersiapkan dengan matang bekal dan segala hal terkait perjalanan ini, maka sekarang waktunya memulai. Karena sejauh apapun visi ditetapkan akan selamanya menjadi mimpi sampai kita melangkahkan kaki untuk memulainya.

No Responses

Your Thoughts