Inovasi Tak Mengenal Henti

Categories: stories

innovation

Tahun 1996 beliau mulai berdagang, waktu itu dagangan pertamanya adalah martabak manis. Dengan bermodal kepercayaan dan sepeda onthel, waktu itu tinggal datang ke juragan martabak manis dan segera akan dipersenjatai dengan gerobak bonceng yang penuh dg martabak manis yang masih hangat untuk bisa dijajakan dengan penyajian sederhana, dikucuri susu kental manis cokelat di permukaannya.

Mulanya beliau berdagang karena upah dwi-mingguan dari menjadi kuli lori di sebuah pabrik tebu sebesar Rp 12.500,- tak lagi mampu mencukupi kebutuhan keluarga kecilnya. Terlebih, anak pertamanya yang sekarang baru lulus SD dan berniat melanjutkan ke jenjang berikutnya, agar tak seperti dirinya yang hanya lulusan SD.

Rupanya berdagang itu membawa candu, ketika martabak mini mulai over supply, berturut tahun beliau berganti dagangan, mulai dari batagor, mie lidi, es goreng, hingga akhirnya di tahun 2000 beliau berganti dagangan baso puyuh. Bukan baso sebagai hidangan utuh, hanya berupa adonan baso bulat dengan telur puyuh di dalamnya yang memberi sensasi meledak ketika digigit setelah sebelumnya dicelup saos sambal.

Baso puyuh pun melegenda karena Pak Kumis, anaknya yang bersekolah di sebuah SMK di kota kabupaten pun tak luput menjadi marketing dengan cara pesanan. Bahkan, menantunya yang seorang dokter pun tak pernah absen untuk menikmatinya setiap kali bertandang ke rumah sang mertua, Pak Kumis pedagang baso puyuh.

Kini, di saat usia sudah menua, rupanya tak dapat menghalanginya dari berinovasi. Menyadari bahwa sudah mulai banyak pengcopy hidangan baso puyuhnya, diferensiasi pun dilakukan dengan resep rahasia untuk sambalnya. Hal kecil ini tanpa sengaja telah memposisikan produknya diatas level para pesaing serupa. Dengan sambal khusus yang lebih punya rasa dibandingkan saos instan yang ada di pasaran, maka produknya tidak hanya diminati sebagai jajan anak sekolahan. Bahkan musim libur lebaran seperti yang baru berlalu, produknya menjadi hidangan yang ditunggu di setiap halal bihalal para perantau yang sedang bernostalgia di kampung halaman.

Berbisnis adalah perihal inovasi, yang ketika sudah dimulai tak boleh mengenal kata berhenti. Kalau tidak, maka pesaing akan siap menggantikan posisi kita.

Pak Kumis adalah sosok orang tua yang tidak pernah berbangga membicarakan masa lalu, bagaimana besok adalah hal yang selalu menjadi minat terbesarnya untuk disampaikan. Begitulah seharusnya dasar dari tekad untuk berinovasi.

Salam pengusaha, semangat sang entrepreneur.

Your Thoughts