Ide Tak Bisa Menunggu

Categories: development

Kita pernah sharing mengenai bisnis yang mengalir, dimana kunci menjalani usaha adalah menjalaninya. Kita juga pernah sharing mengenai kondisi dimana kita terlalu banyak ide, di mana ide itu sendiri terkadang mengalir deras tanpa bisa dibatasi debit alirannya.

Dari kedua sharing tersebut, manajemen akan keseimbangan atas aliran ide dan aliran aksi untuk mengeksekusinya menjadi sangat krusial karena ide tidak bisa menunggu.

ide usaha tidak bisa menunggu - harus segera dieksekusi

Yes… Ide tak bisa menunggu – segerakanlah ide itu

Dalam banyak kasus, ide menjadi “senjata makan tuan” bagi para pelaku wirausaha pemula. Banyak ide berhenti hanya sebatas ide pada saat tidak kemudian diimbangi dengan keberanian, tekad yang bulat, dan kesungguhan dalam mewujudkan ide tersebut.

Tak sedikit dijumpai orang-orang yang lupa bahwa langkah pertama mewujudkan sebuah mimpi adalah bangun dari tidur dan melakukan sesuatu untuk mewujudkannya.

Langkah Mudah Memulai Karena Ide Tidak Bisa Menunggu

Ayo kita bangun dan segera melakukan sesuatu untuk mewujudkan ide-ide kita. Karena ide tidak bisa menunggu temans. Kita segera mulai sekarang juga. Berikut langkah mudah memulai:

Keberanian, Sebuah Ukuran Relatif

Pertanyaan pertama setelah seseorang menemukan ide adalah, seberapa besar keberanian untuk menjalaninya? Hal ini karena semua ide usaha tentu memiliki resiko gagal, sebagaimana ide-ide lainnya. Karena tidak seperti dalam bangku kuliah dimana kita bisa mematok asumsi ceteris paribus, dalam dunia usaha segala faktor bisa menjadi sangat berpengaruh bahkan yang terkecil sekalipun.

Namun, tidak juga kemudian hal itu membuat seseorang ciut nyalinya dalam menjalankan idenya. Justru itulah seleksi alam untuk melihat siapa Sang Entrepreneur sejati. Seorang entrepreneur sejatinya bukan sekedar seseorang dengan keberanian lebih untuk mengambil resiko, sehingga terkesan selalu melihat “jika berhasil” dari sebuah usaha.

[alert-note] [/alert-note]

Tapi seorang entrepreneur haruslah orang yang mampu melihat secara proporsional kedua kemungkinan, “jika berhasil” dan “jika gagal”, dalam setiap ide usaha. Dan, dengannya dia mampu mengambil tindakan dengan resiko terukur untuk sebuah tujuan besar.

Banyak pengendara berjalan lambat dan mereka selamat sampai tujuan. Banyak juga pengendara berjalan cepat dan mereka selamat sampai tujuan. Yang tidak selamat adalah yang ragu-ragu, dan mereka tidak pernah sampai di tujuan.

Sinergi, Karena Tidak ada Orang yang Bermimpi untuk Menjadi Rakus

Kalau sudah terkumpul keberanian, biasanya masalah selanjutnya adalah perihal sumber daya untuk mewujudkan ide itu. Sudah terlalu sering kita dengar kalimat klise mengenai kenapa orang tidak kunjung memulai usaha;

“Ide sih ada, berani tentu berani, tapi masalahnya siapa yang mau modalin?” atau “Modal ada, ide juga cukup mumpuni, cuman masalahnya saya tidak ahli di bidang itu” dan sebagainya-dan sebagainya.

Sejatinya jawaban atas semua kegelisahan diatas ada pada diri kita sendiri; manusia sebagai makhluk sosial. Kita tidak pernah bisa hidup sendiri. Dan karenanya kita, atau siapapun di dunia ini, tentu tidak pernah bermimpi untuk menjadi rakus.

Bahwa dalam perjalanannya kita menjadi rakus, itu karena kemudian kita dihinggapi rasa sombong dan jumawa, merasa mampu hidup tanpa orang lain, yang apabila kita baca terbalik; merasa mampu hidup menjadi bukan manusia.

Sinergi – bernetworking

Kembali kepada perihal ide, jika seorang karyawan bank memiliki mimpi menjadi juragan kopi tentu tidak ada yang salah dengan ide itu. Karena bisa jadi sebagai karyawan lembaga keuangan dia memiliki pandangan tentang potensi pasar akan kedai kopi di daerahnya. Sebagai karyawan berpenghasilan menengah, barangkali dia juga bisa menabung untuk mengumpulkan modal usaha.

Tapi masalahnya, ide itu bisa saja dikubur dengan pertimbangan bahwa hampir tidak mungkin untuk dia menjadi seorang ahli kopi. Disinilah sesungguhnya kita membunuh mimpi kita sendiri dengan kerakusan. Bukankah ada banyak orang yang juga punya keinginan buka kedai kopi tapi tidak punya modal dan/atau pemetaan pasar yang jelas?

[alert-note] [/alert-note]

Yang paling penting dari sebuah sinergi adalah, jangan pernah bekerja sama kalau hanya untuk 1 + 1 = 2. Seharusnyalah sebuah kerja sama bisa menghasilkan 1 + 1 >= 27. Bagaimana detail mengenai sinergi ini, akan kita bahas dalam sharing berikutnya ya. (Ini alibi sekaligus iklan)

Ide itu Seperti Bus Kota

Setelah terkumpul keberanian, dan terbentuk tim yang satu visi, maka sebaiknya segeralah bertindak. Karena ide itu seperti bus kota, jika kita terlambat akan ada bermunculan banyak orang yang segera mengeksekusinya. Dan akhirnya kita hanya bisa jadi penonton, atas ide kita sendiri, itulah senjata makan tuan yang saya bilang di awal. Kalau kata anak sekarang sih, baper banget. Jadi kenapa masih harus menyimpan idenya?

Eksekusikan ide sebelum orang lain mengambil ide kita dan sukses dengan ide itu.

Masih Mau Menunda Eksekusi Ide?

Dari semua poin yang kami sampaikan di atas, sejatinya kembali bisa kita tarik sebuah benang merah. Bahwa modal utama dari sebuah usaha bukanlah ide usaha, modal dana, tau bahkan pangsa pasar. Yang terpenting dalam memulai usaha adalah kepercayaan.

Kepercayaan akan ide kita bisa menjadi nyata, sehingga mampu menggerakkan nyali kita untuk mengeksekusinya. Kepercayaan kepada orang lain sebagai partner berkembang kita, sehingga mampu membentuk tim yang solid dan satu visi dengan kita. Dan, kepercayaan bahwa setiap energi positif yang kita curahkan atas sebuah aktivitas usaha, tentu akan berbalik menjadi hasil positif pula bagi kita dengan berlipat ganda.

Jadi masih mau menunda kepercayaan diri dan eksekusi ide kita sendiri? Ayolah, ide tidak bisa menunggu, yang ada nanti bisa diambil orang lain. Karena bisnis yang bagus adalah bisnis yang dimulai.

Mari Teleportasikan Manfaatnya.

2 Comments

Your Thoughts