Entrepreneurship a la Mono Stereo

Categories: stories

Ada yang mengikuti talent show di NET tv dengan judul The Remix? Kalau kamu termasuk yang tidak mengikuti acara tersebut, cobalah sesekali cek acara ini. Kali ini, IDpreneurs akan membahas mengenai inspirasi belajar wirausaha dari Mono Stereo, pemenang acara ini.

belajar entrepeneur dari mono stereo - pemenang the remix

The Remix  pada dasarnya adalah kompetisi music performance yang menyajikan persaingan antara delapan group yang setiap groupnya terdiri dari penyanyi yang sudah eksis dengan music remixer pada genre electronic dance music (EDM). Sistem eliminasi berdasarkan polling melalui twitter di sepanjang show.

 

 

Juara The Remix Net TV – Mono Stereo

Singkat kata, setelah sepuluh minggu tayang, malam tadi (6/12/2015) diperoleh Sang Juara yaitu Mono Stereo yang terdiri dari Meli SHE sebagai vocalist dan Osvaldo Rio sebagai Remixer, setelah menjalani grand final show yang sengit dengan Soundwave sebagai juara ke-dua.

Disini, kita tidak sedang membahas musik dan hingar bingar acaranya yang benar-benar bisa menciptakan fenomena tersendiri. Kali ini, kita coba gali pelajaran entrepreneurship a la Mono Stereo, Sang Juara The Remix.

belajar entrepreneurship dari mono stereo juara the remix net tv

Belajar Wirausaha/Entrepreneurship Dari Mono Stereo

Apa aja yang bisa kita pelajari dari juara The Remix Net TV ini – terutama terkait dengan dunia wirausaha atau entrepreneurship? Berikut ini setidaknya beberapa pembelajaran wirausaha dari mereka yang bisa saya tuliskan.

Kekuatan Visi atau Idealisme

Dari penampilan pertamanya, Osvaldo Rio, sang remixer memang paling menonjol dengan kejeniusan musikalitasnya. Namun permasalahan yang nampak adalah bahwa karya berteknik tinggi miliknya susah diterima penonton.

Semua juri menjulukinya jenius dan mengakui kemampuan teknisnya, tapi penonton tetap kurang bisa menerimanya. Hal ini terbukti dari perolehan polling yang seringkali menempatkan Mono Stereo di jajaran bawah, bahkan berkali-kali terancam eliminasi.

Tapi kondisi itu tidak membuat mereka melepaskan visinya akan musikalitas mereka. Kekuatan visi tetap mereka pegang teguh. Sehingga dengan bangga mereka tetap bisa mengatakan bahwa musik mereka itu sebagai rangkaian cerita.

Dari awal penampilan hingga pada grand final semalam mereka menandai penampilannya sebagai sebuah ujung dari penampilan di awal acara. Semua tetap terjaga dalam koridor visi yang sama, namun apa hal lain yang membuat mereka tetap bisa diterima pada akhirnya?

Baca juga: Berkuda, Kebebasan dan Berbisnis

Belajar Tanpa Henti

Dalam usianya yang masih belasan tahun dan merupakan remixer termuda dalam ajang kompetisi tersebut, Osvaldo Rio justru seolah memiliki energi lebih untuk belajar. Sebagai pemuda dari Jogja yang kiprahnya bahkan belum pernah terdengar sebelumnya oleh khalayak Indonesia, dia tetap mau belajar tanpa henti untuk memperbaiki diri.

Keras kepala pada visi itu mutlak dalam bisnis, sebagaimana ditunjukkan oleh Valdo dalam statement di setiap penampilannya. Tapi keluwesan mengemasnya menjadikan karya-karyanya menjadi lebih dapat diterima dan bahkan digemari oleh para pemirsa.

Dalam bahasa yang sederhana kita bisa memetik pelajaran dari Valdo sebagai berikut;

Visi boleh setinggi langit, tapi karya harus membumi.

Identitas Kreasi

Dalam dunia industri kreatif, kreatifitas sangatlah mendominasi bertahan atau tidaknya sebuah ide untuk bisa sampai kepada para pengguna sebagai sebuah karya. Sementara itu, dalam era dimana segalanya seolah berputar terlalu cepat, tidak pernah dijumpai sesuatu yang benar-benar orisinal. Sehingga jika seorang seniman dan/atau pelaku industri kreatif pada umumnya dituntut untuk memiliki identitas karya, menjadi hampir mustahil.

Sebagaimana pernah kami sharing, bahwa orisinalitas hanyalah milik persepsi, sementara produk dan/atau jasa cenderung mirip. Pola pikir out of the box sebenarnya hanyalah kemampuan menempatkan pengguna pada sudut pandang yang berbeda dari sebuah barang yang sama.

Baca juga: Nilai dan Kemasan

Seorang Osvaldo Rio, yang notabene merupakan kontestan remixer termuda, tentu kalah jauh jika harus berbicara pengalaman akan bermusik. Tapi yang menjadi kejutan pada malam grand final adalah dia mampu memberikan fill-in musik era 80’an pada karyanya. Sebuah kejutan besar karena bahkan dia belum lahir pada saat musik-musik itu pertama kali diperdengarkan.

Pemuda memang tidak bisa bicara pengalaman, tapi pemuda tentu bisa bicara perihal masa depan.

Dari sini kita bisa belajar banyak, betapa sudut pandang atas sebuah karya bahkan bisa melintasi jaman. Kreatifitas menjadi kunci bahwa sebuah produk bisa saja sama, namun sangat mungkin menjadi berbeda pada saat disampaikan dengan cara yang berbeda, dan dengan perspektif yang berbeda.

Kesimpulan

Setidaknya itulah yang kami dapatkan dari pemenang The Remix Net TV ini kemarin tentang wirausaha yang bisa kami sharing dari Mono Stereo. Kalau ada yang punya sudut pandang lain, feel free to share with us, kita belajar wirausaha/entrepreneurship dari Mono Stereo bersama yuk.

Your Thoughts